Tembuku

7-kedaton-boda.jpg

Tembuku
Untuk Wahyu Agung

I
Yang menyemut di Tembuku
Sunyi – sunyi jiwamu, melayang jinak kena terpa angin Batur
Yang menguap di Tembuku
Jalan iringan
laku ke hulu arah dituju

Tenanglah bungsu jangan khawatir
Hilang sembabmu dihapus zaman
Laku pakarti memberi lajur
terus bersyukur
teus bersyukur

Tak ada cinta yang benar benar hilang
, pun kekal

II
Jika kau baca sajak ini nanti
Segerombol bocah telanjang menyelam di pangkal bendungan
Mencari dasar, meraba ujung

Ada yang lengkap
Kau tersenyum nampak di jembatan

Surabaya, subuh 12 Agustus

*Inset gambar diambil dari dokumentasi keluarga Arthur Fleischmann. Diakses melalui
http://bali1928.net/?page_id=518

 

Tiap Yang Mati Dalam Mimpiku

foto-kuno-tempoe-doeloe-dulu-upacara-ngaben-di-bali-tahun-1910-1950-cremation-ceremony-ngaben-old-vintage-photography-1

Tiap yang mati dalam mimpiku

Tiap yang mati dalam mimpiku
Memberi siaga jenis baru dan telisik yang makin cermat
Yang muncul sepanjang subuh
Membangunkan dalam sepi yang melolong
Menyudahi tidur dan gelap lampu yang mesti nyala

Tiap yang mati dalam mimpiku
Dalam kabung malam lusa atau mimpi yang tak pernah selesai
Maaf atas doa yang kadang lupa, tidur dalam najis
dan kekosongan jarang mengingat,

Satu dua, muncul ingatan kawan baik dan orangtua
Tentang masa kanak, tentang Kendal dan air sungai yang abadi
Bau pergi makin jelas semenjak hidup tak lagi sama

Tiap aku yang mendaku,
Mohon ampun

Tuhan

Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com

Hujan Kemarin

587161.jpg

Hujan Kemarin

Kemarin hujan, langit putih melingkup
Ada sepi yang sembap di perjalanan
Cuaca bertanya padaku, sudahkah siap?

Jelasnya hujan masih sama
Kepalaku bocor, kena lebam di pangkal leher
Ada yang meredam, nyata nyata kena gebuk dari belakang
Inikah bahaya,
inikah selisip siaga yang selalu muncul di tiap tidur yang tak pernah tenang

Pertanyaan pertanyaan sering muncul di kepalaku
Suara suara mempertanya tiap kemungkinan
– yang tercipta dari keasingan
Aku tak bisa menjawab, pun juga mengelak
Lamunan sepertinya tertangkap basah pada kekosongan

Surabaya, 15 Juni

 

 

 

Sajak Penolakan

jiunkpe-ns-s1-2006-42401151-3941-samin-extras12.jpg

Sajak Penolakan

atas nama mereka yang merangkak untuk menolak

 

 Pun tak ada satu yang menarik dari Havelaar

Tentang yang dia bilang vaak, tentang yang dia ungkap dari sajak sajak Homer

 sajak sajak filsuf yang heroik, yang terik dan yang bebal

Tentang masa kecilnya, tentang orang yunani, tentang lebak dan kopi manado,

dari semula,

pikiran – pikiran tentang sosialisme dan pembaruan kuanggap sebagai  purwarupa dari nilai – nilai dan tragedi

Seharusnya sosialisme dibakar dalam bara kalau begini jadinya

Seharusnya, nabi – nabi cukup saja berdiam, tak usah berdakwah tentang infak dan zakat

Seharusnya, negara tak usah repot mencari yatim dan janda janda

Kalau begini jadinya, biarkan dunia memburuk

Dan kiamat jadi obat

 Untuk mereka yang tak lagi punya rumah,

mereka yang makan dari remah yang berserak dan telah lunyah

Kuucapkan selamat malam, selamat bermimpi dalam heroisme masing – masing

Dalam kondisi dan gelapnya masing – masing

Sajak ini kerinduan kepada mereka ,

yang hidup dari sajak – sajak, dari corong megafon

Mereka yang tidur – tiduran di sawah, menolak pabrik

Mereka yang menyulut molotov, yang meracik mandau, yang menerjang

Mereka yang melek, yang berjaga dengan pentungan sebelum truk datang, dan pasir habis ditambang

Percayakah kau sayang,

kita seharusnya tahu diri dan bersila menunggu matahari

Mengibarkan panji syukur dan berdoa untuk esok dan seterusnya

Kau punya apa?

Sini biar ku simpan sini sayang,

kita keliling dunia dan membagi apa yang seharusnya dibagi

Kendal, Januari 2013

Gambar header saya ambil dari : http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/jdkv/2006/jiunkpe-ns-s1-2006-42401151-3941-samin-extras12.jpg

Menulis Kembali :”Percakapan Selat”(Umbu Landu Paranggi)

download

Percakapan Selat
Umbu Landu Paranggi ( 1966 )

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam berhantam di buritan
Juluran lidah nampak di bawah kerjap mata menggoda
dalam lagu siul, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sini, makin berbentur dalam kenangan
rusuh yang ganjil sampai gelisah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak bersambung menderu
dalam terpencil, hingga di mana nafas dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia penumpang itu
Langit terus memainkan cuaca, sampai tanjung, rusuk senja
bintang di mata si anak hilang, taruhannya terus mengembara

 

*Catatan : Umbu Wulang Landu Paranggi, lahir di Kananggar, Sumba Timur 10 Agustus 1943. Sering disebut sebagai tokoh sastra paling misterius setelah Ragil Soewarna dan Widji Thukul. Namanya dikenal melalui karyanya berupa esei dan puisi yang beberapa diterbitkan “paksa” oleh siswa – siswanya. Umbu mendirikan Persada Studi Klub ( PSK ) di Malioboro tahun 1970-an. Melalui PSK, lahirlah sastrawan hebat yang dulu berguru padanya. Sebutlah Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Ebiet G.A.D, Eko Tunas dll. Sekarang tinggal di Bali tanpa ada yang tahu dimana dia bertempat. Banyak dugaan, Umbu mengelana sejak 1983.

Membaca Kenya Dalam “Something Necessary”

something-necessary

Semalam saya menonton gelaran ArtHouse Cinema ke delapan di Wisma Jerman. Kebetulan sudah nyidam nonton dari Juni. Kesempatan baru datang bulan Agustus. Maka, setelah mengkosongkan jadwal dan mengatur siasat, saya datang ke wisma, pulang kerja pukul lima.

Awalnya Something Necessary membuat saya sedikit bertanya. Filem ini berlatar belakang Kenya. Maka, saya sedikit bingung, filem Jerman kah? filem Kenya kah? Pertanyaan terjawab di dua menit pertama. Filem ini adalah kolaborasi antara produser Jerman, Tom Tykwer (Run Lola, Run,Perfume) dan sutradara Kenya, Judy Kibinge ( Nairobi Half Life ).

“Something Necessary” menceritakan dua tokoh yang berkaitan. Pertama, seorang perempuan ( Anne ) yang harus berjuang keras menyembuhkan pahit hidupnya dan membesarkan anak laki lakinya paska suaminya terbunuh di tangan gerombolan geng. Kedua, seorang remaja laki laki ( Joseph ) yang harus menerima mimpi buruk setelah kasus pembunuhan tersebut, trauma mendalam muncul karena dia turut serta dalam huru hara pembunuhan.

Anne kehilangan segalanya. Suaminya tewas, putranya koma, ia sendiri diperkosa, dan tanah pertaniannya – tempat tinggal keluarganya – luluh lantak dan terbakar habis. Alur diceritakan secara menarik. Kepahitan tergambar begitu jelas. Saya rasa, filem ini menggambarkan kerusuhan pra pemilu Kenya 2007 dengan jujur. Pada sepuluh menit pertama, rekaman faktual kerusuhan pra pemilu diputar sebagai pondasi cerita sepanjang filem. Bagi yang tak terlalu suka dengan filem dengan adegan adegan kekerasan, saya rasa filem ini akan cukup mengganggu mata. Ada beberapa scene kekerasan disini. Tersebar dari awal sampai akhir cerita. Mulai dari pengeroyokan, adegan berdarah darah ketika Joseph dikeroyok geng, sampai Anne yang mengaborsi dirinya sendiri.

Filem ini cukup diperhitungkan di gelaran African Film Festival 2015. Saya menyukai penghayatan aktor melakonkan tokoh. Terutama Joseph (Walter Lagat) dan Anne (Susan Wanjiru). Satu tokoh lagi yang saya suka dalam film ini, Gathoni ( Anne Kimani ), seorang suster periang yang membantu Anne melewati masa pemulihan. Melihat fisiknya, saya teringat tokoh Maria dalam Merahnya Merah. Perempuan sangar gede besar, dengan payudara besar, berkulit legam, namun memiliki senyum terindah di dunia dengan sopan dan cinta kasih yang memabukkan.

Melihat komposisi artistik filem yang dibangun dengan warna warna pahit dan pekat ( coklat, hitam, merah dan biru gelap ) membuat saya memahami betul suasana pembantaian dan anyir darah. Dalam beberapa sekon saya juga teringat suasana yang terbangun di novel The Kalahari Typing School for Men karangan Mc. Call Smith. Terutama pada scene scene berlatar ladang jagung, semak meranggas yang kering dan terbakar, rumah kecil dengan halaman dua hektar, juga pasar tradisional dan gereja desa.

Menonton Something Necessary sama saja dengan membaca ulang apa yang terjadi di jazirah Afrika, khususnya Kenya. Politik dan latar belakang sosial selalu membawa sisi sisi humanis yang muncul seperti rumput liar. Tak terlalu diperhatikan, tapi ada dan masif. Apa yang terjadi di Kenya adalah gambar dari kekacauan negara – selanjutnya kekacauan sosial di hampir seluruh penjuru dunia.

 

” Murid – murid itu bukanlah mesin pabrik gula yang siang malam tidak berhenti bekerja (belajar).  Murid – murid pun kehilangan masa bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Mereka sibuk sendiri di meja belajar siang dan malam, mengerjakan tugas – tugas sekolah, sedangkan teman lainnya bermain di pelataran. Ini akan membentuk sifat murid ke depannya ketika ia terbiasa hanya memedulikan dirinya sendiri dan mengacuhkan sekelilingnya.”

– Tan Malaka